Minggu, 14 Juni 2015

LAPORAN MIKROBIOLOGI ANGKA KAPANG KHAMIR

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.LATAR BELAKANG
Dalam pengujian mutu suatu bahan pangan diperlukan berbagai uji yang menggunakan uji fisik,uji kimia,uji mikrobiologi,dan uji organoleptik.Uji mikrobiologi merupakan salah satu uji yang penting karena selain dapat mengetahui daya tahan simpan suatu makanan juga dapat digunakan sebagai indicator sanitasi akanan atau indicator produk keamanan makanan.
Berbagai macam uji mikrobiologi dapat dilakukan terhadap pangan,meliputi uji kuantitatif mikroba untuk menentukan mutu dqan daya tahan suatu makanan,uji kualitatif bakteri pathogen untuk menentukan tingkat keamananya dan uji bakteri indicator untuk nmeningkatkan sanitasi makanan tersebut.Pengujian yang dilakukan terhadap setiap bahan pangan tidak sama tergantung dari berbagai factor seperti jenis dan komposisi bahan pangan cara pengolahan,dan penyimpanan,cara penaganan dan komsumsinya.
Uji kapang khamir adalah pengujian yang dilaksanakan untuk menghitung jumlah kapang dan khamir yang ditumbuhkan pada medi tertentu,dilakukan dengan prinsip hitung cawan,yang apabila Satu sel mikroorganisme yang masih hidup ditumbuhkan pada media yang sesuai maka sel tersebut akan berkembang biak dan membentuk koloninya dpat dilihat langsung dengan mata pada media yang digunakan etelah dilakukan inkubasi pada suhu dan waktu tertentu.
Tujuan dilakukannya uji AKK ini yaitu untuk mengetahui cara dan prinsip pengujian AKK dalam sediaan farmasi agar kita bisa mengetahui dan menentukan mutu daya tahan suatu makanan atau sediaan yang diujikan,uji kualitatif bakteri patogen  untuk menentukan tingkat keamananya dan uji bakteri indicator untuk meningkatkan sanitasi sampel tersebut
1.2.TUJUAN PRAKTIKUM
Untuk mengetahui cara danprinsip uji anka kapang khamir (AKK) dengan menggunakan sampel “Manisan Buah Kaleng”.











BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1. TEORI UMUM
                 Prinsip dari metode hitung cawan adalah jika sel jasad renik yang masih hidup dihidupkan pada media gar,maka sel jasad renik tersebut akan berkembangbiak dan membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dan dihitung dengan mmata tanpa menggunakan bantuan mikroskop.Metode hitung cawan merupakan cara yang paling sensitive untuk menentukan jumlah jasad renik karena beberapa hal yaitu:
1.      Hanya sel mikroba yang hidup yang dapat dihitung.
2.      Beberapa jenis jasad renik dapat dihitung sekaligus.
3.      Dapat digunakan untuk isolasi dan identifikas mikroba.Karena koloni yang terbentuk mungkin berasal dari suatumikroba yang mempunyai penampakan pertumbuhan sensitive (Waluyo,2010)
Selain keuntungan keuntungan tersebut,metode hitung cawan juga mempunyai kelemahan-kelemahan sebagai berikut:
1.      hasil perhitungan tidak menunjukkan jumlah sel yang sebenarnya karena beberapa sel yang berdekatan mungkin membetuksatu koloni.
2.      Medium dan  kondisi inkubasi yang berbeda mungkin menghasilkan nilai yang berbeda pula.
3.      Mikroba yang dibutuhkan harus dapat tumbuh pada medium padat dan membentuk koloni yang kompak,jelas,tidak menyebar.
4.      Memerlukan persiapan dan waktu inkubasi relative lama sehingga pertumbuhan koloni dapat dihitung (waluyo,2010)
Fungi (jamak) adalah suatu organism eukariotik yang mempunyai cirri-ciri spesifik sebagai berikut: (Fardiaz,1992)
1.      Mempunyai inti sel
2.      Memproduksi spora
3.      Tidak mempunyai klorofil sehingga tidak dapat melakukan fotosintesis
4.      Dapat berkembang biak  secara aseksual maupun seksual
5.      Beberapa mempunyai bagian-bagian tubuh dengan dinding sel yang mengandung selulosa atau kitin atau keduanya.
Fungi secara umum terdiri dari 2 golongan yaitu kapang dan khamir.Perbedaan utama adalah bahwa khamir bersel tunggal sedangkan kapang bersel ganda.Selan itu antara kapang dan khamir,yaitu kapang adalah fungi yang mempunyai filament (miselium),sedangkan khamir merupakan fungi sel satu atau tunggal an pa filament.Beberapa fungi disebut fungi dimorfik karena dapat tumbuh dalam bentuk filament seperti kapang,atau berbentuk sel tunggal seperti khamir (Fardiaz,1992)
Walaupun bermacam-macam jenis fungi tampaknya susunannya berbeda,akan tetapi pada dasarnya mempunyai banyak persamaan.Ragi ada umumnya jasad-jasad bersel satu,cendawan adalah bentuk yang bercabang-aban yang tersusun oleh banyak sel,dan dari ujung ke ujung,bercabang-cabang dan berbenang-benang (zaraswati,2014)
Fungi sebenarnya merupakan organism yang menyerupai tanaman,tetapi mempunyai beberapa perbedaan sebagai berikut (Fardiaz,1992)
1.      Tidak mempun yai klorofil
2.      Mempunyai dinding sel dengan komposisi berbeda
3.      Berkembang dengan spora
4.      Tidak mempunyai batan/cabang ,akar atau daun.
5.      Bersifat multiseluler tetapi tidak mempunyai pembagian fungsi masing-masing bagian pada tanaman.
                 Jumlah kapang dan khamir didalam conth makanan dihitung dengan metode hitung cawan dengan menggunakan medium PDA dengan ditambahkan kloramfenikol atau asam tartrat 10% sebanyak 1 ml kedalam setiap 100 ml PDA steril.
                 PDA adalah medium yang mempunyai kandungan karbohidrat terdiri dari 20% glukosa sehingga baik untuk pertumbuhan khamir dan kapang,tetapi karena beberapa bakteri juga memfermentasikan karbohidrat dan menggunakannya sebagai sumber energy,maka beberapa bakteri masih mungkin tumbuh pada PDA (Fardiaz,1993)
                 Ukuran sel yang menyusun hifa berbeda dari satu jamur dengan jamur yang lain,yang besar dapat memiliki diameter 10-20 ɥm.Pada jamur terdiri atas hifa yang tidak bersekat pada suatu tempat tertentu.Hifa yang berinti banyak disebut senisit (coenocytes).Pada jamur yang bersifat parasit.Zat makanan dari nang dapat terserap oleh sel-sel jamur.Tetap ada juga parait-parasit yang membentuk semacam akar (haustoria) yang masuk kedalam sel inang untuk mengambil makanannya.







II.2.  URAIAN JAMUR
1.      KAPANG
            Kapang adalah kelompok mikroba yang tergolong dala fungi dan ilmu mengenai fungi disebut mikologi,kapang,organism lainnya yang termasuk dalam golongan fung dan pentng dalam mikrobiologi pangan dan mikrobiologi pangan adalah khamir dan jamur.
Sifat-sifat umum fungi:
1.      Mempunyai inti sel
2.      Memproduksi spora
3.      Tidak memiliki klorofil sehinga tidak dapat melakukan fotosintesis
4.      Dapat berkembangbiak secara seksual dn aseksual
5.      Beberapa bagian-bagian tubuh terbentuk filament dengan dinding sel yang mengandung selulosa atau kitin atau keduanya.
            Kapang adalah tanama  dari division Thallophyta tidak memiliki akar,batang,dan daun dan termasuk subdivision fungi tidak memiliki klorofil.Kapang termasuk Eumycetes atau fungi sejati.
            Klasifikasi kapang yang umum terdapat pada pangan adalah sebagai berikut:
1.      Kapang Nonseptat (termasuk subdivisi zygomycotina)
a.       Kelas Oomycetes (spora seksual adalah oospora)
1.      Ordo Saprolengmates,jenis saprolegma
2.      Ordo Peronospoles,jenis phtium.
b.      Kelas Zygomycotes (spora aseksual adalah zigospora),Ordo Mucoroles (spora aeksual adalah sporangiospora) jenis mucor,zygorrhyncus,rhizopus,absidia,thamnidium.
3.      Kapang Septat
            Kelas fungi tidak sempurna (imferfecti) tidak mempunyai spora seksual.
1.      Ordo Momlaceae Jenisaspergillus,penicillum,trichothecium,goethichum,neuspora,
spororichum,botrytis,chephalospora,trichoerma,sopular loptis.
2.      Ordo Melancotiales,jenis colletotrichum,gleosporium,pestallozela
3.      Ordo Sphaeropsidates (kanidia berbentuk botol,disebut piknidia)jenis phoma dan dliploida.




2.      KHAMIR
            Khamir termasuk fungi tetapi dibedakan dari kapang karna bentiknya uniseluler.Reproduksi vegetative pada khamir terutama dengan cara pertunasan.Sel khamir mempunyai ukuran yang berfariasi yaitu dengan panjang 1-5 ɥm sampai 20-50ɥm dan lebar 1-10 ɥm.Bentuk sel khamir bermacam-macam yaitu bulat,silinder,oval,orgigal yaitu bulat panjang dengan salah satu ujung runcing,segitiga melengkung (Tiangular) berbentuk botol berbentuk apikuled atau lemon.Membentuk Pseudomiselium dan sebagainya.
            Khamir dapat dibedakan menjadi tiga jenis yaitu:
1.      Kelas Ascomycetes,atau khamir askosporageneus,dimana spora tumbuh didalam askus.
2.      Kelas Basidiomycetes yang membentuk spora pada basidium.
3.      Kelas dentromycetes yaitu khamir yang tidak memproduksi spora seksual dsebut juga fungi impercetio yang terdir dari dua family yaitu:
a.       Sporobocomycetaceae yang memproduksi balliostospora tora
b.      Cyptocceae yang tidak memproduksi balliostospora maupun spora seksual.




II.3. URAIAN SAMPEL
               Nama sampel yang digunakan pada percobaab akk ini yaitu manisan bua kaleng,kegunaanya sebagai makana pendamping,kemasan yang digunakan kaleng aluminium,dengan komposisi buah leci,air,gula,pengatur keasaman (asam sitrat),pemerian padat,berair,rasa manis,agak asam,warna putih atau hampir putih,penyimpanan ditempat sejuk,jauhkan dari sinar matahari langsug.














BAB V
PEMBAHASAN
                        Pada percobaan kali ini yaitu Angka Kapang Khamir(AKK) dalam sebuah sampel makanan.Dimana tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui jumlah kadar dan prinsip uji kapang khamir pada sampel manisan buahkaleng yang berupa cairan.Semua tehnik atau prosedur pengerjaan praktikum dilakukan dengan tehnik aseptic.Baik pada alat-alat yang digunakan maupun pada bahan-bahan yang akan digunakan,seperti cawan petri tabung reaksi kemudian diberikan perekat lalu dimasukkan kedalam oven pada suhu 100˚c selama 1 jam sedangkan Erlenmeyer dan alat berskala lainnya serta media di sterilkan di autoclave pada suhu 121˚c selama 15 menit.
                        Pada percobaan ini meggunakan media sepert PDA penggunaan media-media ini bertujuan agar memudahkan pengamatan pada sampel “Manisan Kaleng” yang akan dilakukan karena bentuk sediaan adalah Nutrient Agar.sehingga apabila sampel tersebut mengandung jamur akan terlihat jelas dibandingkan dengan media yang bersifat cair,PDA yang digunakan dicampur dengan kloramfenikol agar media tidak ditumbuhi oleh bakteri.PDA mengandung 20 % karbohidrat dan 2 % gula sehingga ada beberapa bakteri menfermentasikan karbohidrat menjadi energy sehingga memungkinkan media ditumbuh oleh bakteri,oleh karena itu ditambahkan kloramfenikol,kemudian dipipet kedalam capet sebanyak 20 ml pada masing-masing capet.
                        Angka Kapang Khamir merupakan perhitungan dengan metode cawan yang dapat dilihat apabila ada satu sel mikroorganisme yang masih hidup ditumbuhkan pada medium yang sesuai ,maka sel tersebut akan berkembang biak dan membentuk koloninya,dapat dilihat langsung dengan mata pada media yang digunakan setelah diinkubasi pada suhu 25-30˚c selama 3 hari.Perhitungan dilakukan pada cawan petri dengan jumlah koloni 10-150 koloni.
                        Berdasrkan interpretasi kasil dipilih salah satu cawan petri dari pengenceran yang menunjukkan jumlah koloni antara 10-150 koloni,tetapi berhubungan tidak ada satu pun yang menunjukkan jumlah 10-150 koloni maka dicatat angka sebenarnya dari tingkat pengenceran terendah yaitu 10‾3 didapatkan hasil 5×103 koloni/gram sedangkan jenis cemaran mikroba AKK pada sampel sejenis (Manisan buah kaleng) menurut BPOM adalah 1×102 koloni/gram,hal tersebut menunjukkan bahwa nilai Angka Kapang Khamir dari sampel yang diujikan lebih tinggi dar nilai standr AKK manisan buah kaleng tersebut yang ditentukan oleh BPOM terjadi karena kurang aseptis dalam pembuatan media maupun pada saat melakukan percobaan terjadi kontaminasi silang atau tercemarnya mikroorganisme luar baik melalui kontangk langsung dari tangan atu dari udara.

            

Selasa, 26 Mei 2015

Makalah Emulsi

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena dengan rahmatnya, Karunia, dan hidayah-Nya penulis dapat menyusun makalah ini sehingga selesai pada waktunya.
Makalah yang berjudul “Sediaan Emulsi” ini disusun dan dibuat berdasarkan materi yang telah dirangkum dari sumber yang tepercaya. Selain untuk memenuhi tugas mata kuliah Farmasetika I, pembuatan makalah ini bertujuan agar dapat menambah pengetahuan bagi para  pembaca. Penulis mengharapkan semoga makalah ini dapat memberikan manfaat untuk kita semua.
Ucapan terima kasih tak lupa penulis sampaikan kepada  yang telah membantu kami dalam penyusunan makalah ini. Akhir kata, penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Ucapan maaf dari penulis sendiri apabila terjadi kesalahan pengetikan kata dan isi dalam makalah ini. Oleh karena itu, diharapkan kritik dan saran dari para pembaca untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.



                                                                                                              Kendari,10 mei 2015               


                                                                    penulis,





DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………i
DAFTAR ISI..............................................................................................
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………
A.   LATAR BELAKANG………………………………………………
B.   RUMUSAN MASALAH………………………………………….
C.   MAKSUD DAN TUJUAN……………………………………………
BAB II PEMBAHASAN………………………………………………………
A.   DEFENISI EMULSI………………………………………………………
B.   TIPE-TIPE EMULSI…………………………………………………
C.   KOMPONEN EMULSI………………………………………………
BAB III PENUTUP……………………………………………………………
A.    KESIMPULAN…………………………………………………
B.   SARAN…………………………………………………………………
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………….




BAB I
PENDAHULUAN
A.   LATAR BELAKANG
Sistem koloid banyak digunakan pada kehidupan sehari-hari, terutama dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan sifat karakteristik koloid yang penting, yaitu dapat digunakan untuk mencampur zat-zat yang tidak dapat saling melarutkan secara homogen dan bersifat stabil untuk produksi dalam skala besar.Salah satu sistem koloid yang ada dalam kehidupan sehari – hari dan dalam industri adalah jenis emulsi.
Emulsi merupakan suatu sistem yang tidak stabil, sehinggkan  dibutuhkan zat pengemulsi atau emulgator untuk menstabilkannya sehingga antara zat yang terdispersi dengan pendispersinnya tidak akan pecah atau keduannya tidak akan terpisah. Ditinjau dari segi kepolaran, emulsi merupakan campuran cairan polar dan cairan non polar.Salah satu emulsi yang kita kenal sehari-hari adalah susu, di mana lemak terdispersi dalam air. Dalam susu terkandung kasein suatu protein yang berfungsi sebagai zat pengemulsi. Bebera contoh emulsi yang lain adalah pembuatan es krim, sabun, deterjen, yang menggunakan pengemulsi gelatin.
Dari hal tersebut diatas maka sangatlah penting untuk mempelajari sistem emulsi karena dengan tahu banyak tentang sistem emulsi ini maka akan lebih mudah juga untuk mengetahui zat – zat pengemulsi apa saja yang cocok untuk menstabilkan emulsi selain itu juga dapat diketahui faktor – faktor yang menentukan stabilnya emulsi tersebut karena selain faktor zat pengemulsi tersebut juga dipengaruhi gaya sebagai penstabil emulsi.
 Sistem emulsi termasuk jenis koloid dengan fase terdispersinya berupa zat cairnamun dalam makalah ini kita hanya akan membahas mengenai sistem emulsi saja diantaranya dari defenisi emulsi, mekanisme secara kimia dan fisika, teori dan persamaannya dan serta penerapannya dalam kehidupan sehari – hari dan industri
B.   RUMUSAN MASALAH
1.    Bagaimana defenisi sediaan emulsi?
2.    Bagaimanakah tipe-tipe sediaan emulsi?
3.    Apakah komponen-komponen sediaan emulsi?
C.   MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dan tujuan dari makalah ini yaitu selain sebagai salah satu syarat penilaian dari mata kuliah Faramasetika I.Tetapi juga untuk menambah pengetahuan mahasiswa mengenai sediaan emulsi.Diharapkan dengan adanya makalah ini pembaca dapat lebih memahami lagi mengenai sediaan emulsi.













BAB II
PEMBAHASAN
A.   PENGERTIAN EMULSI
Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat,terdispersi dalam cairan pembawa,distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok (Depkes,1979).
Emulsi adalah sistem dua fase yang salah satu cairannya terdispersi kedalam kedalam cairan lain dalam benuk tetesan kecil (Depkes,1995).
Emulsi adalah suatusediaan yang engandung dua zat cair yang tidak mau campur,biasanya air dan minyak dimana cairan satu terdispersi menjadi butir-butir kecil dalam cairan yang lain.Dispersi ini tidak stabil,butir-butir ini akan bergabung (koalesen) dan membentuk dua lapisan air dan minyak yang terpisah.Flavor dan pengawet yang berada dalam fase air yang mungkin larut dalam minyak harus dalam kadar yang cukup untuk memenuhi yang diinginkan.Emulgator merupakan komponen yang penting untuk memperoleh emulsi yang stabil (Anief,1993)
Emulsi adalah sediaan berupa campuran terdiri dari dua fase cairan dalam sistem dispersi,fase cairan yang satu terdispersi sangat halus dan merata dalam fase cairan lainya,umumnya dimantapkan oleh zat pengemulsi ,fase cairan terdispersi disebut fase dalam,sedangkan fase cairan pembayanya disebut fase luar.Jika fase dalam berupa minyak atau larutan dalam minyak dan fase luarnya air atau larutan,maka emulsi disebut emulsi minyak-air,sedangkan sebaliknya emulsi disebut air-minyak (Depkes,1978).
Emulsi adalah suatu disperse dimana fase terdispers terdiri dari bulatan-bulatan kecil zat cair yang terdistribusi ke seluruh pembawa yang tidak bercampur.Dalam batasan emulsi,fase terdispers dianggap sebagai fase dalam dan medium disperse sebagai fase luar atau fase kontinu.Emulsi yang mempunyai fase dalam minyak dan fase luar air disebut emulsi minyak dalam air tapi sebaliknya emulsi yang memiliki fase dalam air dan fase luar adalah minyak disebut emulsi air dalam minyak(Ansel,1985).
Emulsi atau emulsions adalah sistem disperse kasar yang solid termodinamik tidak stabil,terdiri dari minimal dua atau lebih cairan yang tidak bercampur satu sama lain.Dimana cairan  yang satu terdispersi didalam cairan yang lain dan untuk memantapkannya diperlukan penambahan emulgator(voight,1994)       
Oleh karena itu,dari cairan yang tidak dapat bercampur satu sama lain.Yang satu terdistribusi kedalam yang lain dipertahankan untuk melayang.Maka garis tengah tetesan cairan yang terdistribusi sangat penting untuk mengkarakterisasikan sebuah emulsi.(Voight,1994)
Semua emulgator bekerja dengan membentuk film ( lapisan) disekeliling butir-butir tetesan yang terdispersi dan film ini berfungsi agar mencegah terjadinnya koalesen dan terpisahnya cairan dispers sebgai fase terpisah (Anief,1997)
Emulsi adalah sistem heterogen, terdiri dari kurang lebih satu cairan yang tidak tercampurkan yang terdispersi dalam cairan lainnya dalam bentuk tetesan-tetesan di mana diameternya kira-kira 0,1 mm atau dapat diartikan sebagai dua fase yang terdiri dari satu cairan yang terdispersi dalam cairan lainnya yang tidak tercampurkan.(Martin,1971)
Emulsi yang digunakan dalam farmasi adalah sediaan yang mengandung 2 cairan yang tidak bercampur, satu diantaranya terdispersi secara seragam sebagai globul.(Jenkins,1957)




B.   TIPE EMULSI
Ada dua macam tipe emulsi yang terbentuk yaitu tipe M/A dimana tetes minyak terdispersi kedalam fase air,dan tipe A/M dimana fase intern adalah air dan fase ekstern adalah minyak.Fase intern disebut pula fase dispers atau fase kontinu (Anief,1993).
     Emulsi yang memliki fase dalam minyak dan  fase luar air disebut emulsi minyak dalam air dan biasanya diberi tanda sebagai emulsi “M/A”.Sebaliknya emulsi yang mempunya fase dalam air dan fase luar minyak disebut emulsi air dalam minyak dan dikenal sebaga emulsi “A/M”.Karena fase luar dari suatu emulsi bersifat kontinu,suatu emulsi minyak dalam air bias diencerkan atau ditambah dengan air atau suatu preparat dalam air (Ansel,1985).
Emulsi terdiri dari dua fase yang tidak dapat bercampur satu sama lainya,dimana yang satu menunjukkan karakter hidrofil,yang lain lipofil.Hidrofil (lipofod) umumnya adalah air atau suatu cairan yang dapat tercampur dengan air.Sedangkan sebagai fase lipofil (hidrofod) adalah lemak mineral atau minyak tumbuhan atau lemak (minyak lemak,paraffin,lilin,lemak coklat,malam bulu domba) atau juga bahan pelarut lipofil kloroform,benzene dan sebagainya (Voight,1994)
Dengan demikian ada dua kemungkinan yang dapat terjadi,apakah fase hidrofil yang terdispersi kedalam fase hidrofod,ataukah fase hidrofod kedalam fase hidrofil.dengan demikian dapat dhasilkan dua macam emulsi yang berbeda.Yaitu yang dinyatakan sebagai emulsi ar dalam minyak ‘’A/M’’ atau emulsi minyak dalam air “M/A’’.(Voight,1994)
Jenis emulsi M/A dan A/M adalah sistem emulsi sederhana.Sistem emulsi ganda akan diperoleh apabila didalam bola-bola emulsi yang terbentuk terdapat lagi bola-bola dari fase lainya.Sistem semacam ini dikatakan sebagai emulsi A/M/A atau emulsi M/A/M.Komponen-komponen yang terdistribusi didalam sebuah emulsi,dikatakan sebagai fase terdispersi atau fase dalam atau fase terbuka.Komponen-komponen yang mengandung cairan terdispersi,dinyatakan sebagai bahan pendispersi atau fase luar atau fase tertutup.(Voight,1994)


Untuk emulsi yang diberika secara oral,tipe emulsi yang diberikan adalah minyak dalam air memungkinkan pemberian obat yang harus dimakan tersebut mempunyai rasa yag lebih enak walaupun sebenarnya diberikan minyak yang tidak enak rasanya,dengan menambahkan pemanis dan pemberi rasa pada pembawa airnya,sehingga mudah dimakan atau ditelan sampai ke lambung.Ukuran partikel yang diperkecil dari bola-bola minyak dapat mempertahankan minyak tersebut agar lebih cepat dicerna dn lebih mudah diabsorpsi,atau jka bukan dimaksudkan untuk itu,tugasnya juga akan lebih efektif,msalnya meningkatkan efikasi minyak mineral sebagai katartik bila diberikan dalam bentuk emulsi.(Ansel,1985)
Emulsi yang dipakai pada kulit atau sebagai obat luar bias dibuat sebagai emulsi A/M atau emulsi M/A,tergantung pada berbagai factor seperti sifat zat terapeutik yang akan dimasukkan ke dalam emulsi,keinginan untuk mendapatkan efek amolien atau pelembut jaringan dari preparat tersebut,dan keadaan kulit.Zat obat yang mengiritasi kulit umumnya kurang mengiritasi jika ada dalam fase luar yang mengalami kontak langsung dengan kulit.Tentu saja dapat bercampurnya dan kelarutan dalam air dan dalam minyak dari zat obat yang digunakan dalam preparat yang diemulsikan menentukan banyaknya pelarut yang harus ada sifatnya yang meramalkan fase emulsi yang dihasilkan.Pada kulit yang tidak luka,suatu emulsi air dalam minyak biasanya dapat digunakan lebih rata karena kulit diselaputi oleh suatu lapisan tipis dari sabun dan permukaan ini mudah dibasahi oleh minyak dari pada oleh air.Suatu emulsi air dalam minyak juga lebih lembut ke kulit,karena ia mencegah mengeringnya kulit dan tidak mudah hilang bila kena air.Sealiknya apabila diinginkan preparat yang mudah di hilangkan dari kulit dengan air,digunakan suatu emulsi minyak dalam air(Ansel,1985).
Jika tetesan-tetesan minyak didispersikan dalam fase air, fase kontinu, maka emulsi disebut minyak dalam air (M/A). Jika minyak merupakan fase kontinu, emulsi merupakan tipe air dalam minyak (A/M). Telah diamati bahwa emulsi M/A kadang-kadang berubah menjadi emulsi A/M atau sebaliknya (inversi).Dua tipe emulsi tambahan yang digolongkan sebagai emulsi ganda, tampaknya diterima oleh para ahli kimia. Secara keseluruhan memungkinkan untuk membuat emulsi ganda dengan karakteristik minyak dalam air dalam minyak (M/A/M) atau air dalam minyak dalam air (A/M/A) (Lachman,1994)
Ketika air terdispersikan atau menjadi fase internal (fase dalam) emulsi disebut air dalam minyak (W/o) emulsi. Dalam minyak ketika medium dispersi atau fase eksternal.Sistem yang mengandung sedikit dari 25% air umumnya emulsi w/o. kadang-kadang, lebih kecil dari 10% air akan dipastikan emulsi w/o.Ukuran partikel dari fase dispersi umumnya 0,05 µ atau lebih kecil.(Martin,1971)




















C.   KOMPONEN EMULSI
Komponen dari emulsi dapat digolongkan menjadi 2 macam yaitu
1.    Komponen Dasar
Adalah bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat dalam emulsi. Terdiri atas:
 a. Fase dispers/ fase internal / fase discontinue
Yaitu zat cair yang terbagi-bagi atau butiran kecil kedalam zat cair lain.
b. Fase continue / fase external / fase luar
Yaitu zat cair dalam emulsi yang berfungsi sebagai bahan dasar (pendukung) dari emulsi tersebut.
c. Emulgator
Adalah bagian dari emulsi yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi
Menurut scovilles halaman 318 emulgator terbagi menjadi:
1.     Emulgator alam
Emulgator dapat dibagi menjadi beberapa kelompok :
a.     Berasal dari tumbuhan
·         Karbohidrat,Gum dan bahan-bahan mucilago cocok untuk digunakan dalam emulsi farmasetik. Mereka mempunyai kemampuan mengemulsi banyak substansi secara murni dan menghasilkan emulsi yang Bisaanya bekerja baik jika dilindungi dari fermentasi dengan pengawet. Namun demikian, alkali, sodium borat, caitan alkohol dan garam metalik harus ditambahkan ke dalam gum sangat kationik dan encer, mencegah pemecahan karbohidrat yang banyak digunakan adalah akasia, tragakan, agar, chondrus, dextrum, malt ekstrak dan pektin membentuk minyak dalam air
b.      Berasal dari hewan
·         Protein
·         Gelatin mengemulsi cairan petrolatum dengan lebih mudah dibanding minyak lain dan membuat suatu sediaan yang sangat putih dan lembut serta rasa yang enak. Protein juga membentuk emulsi yang jika digunakan dalam konsentrasi rendah.Kerugian : Emulsi gelatin sulit dijaga dari kerusakan yang    membatasi  nilainya
·          Kuning telur Keuntungan  Emulsi yang dibuat dengan kuning telur, stabil dengan asam dan garam. Jika kuning telur cukup segar, dapat membentuk emulsi yang creaming yang menunjukkan sedikit kecenderungan untuk memisah.Kerugian Jika digunakan kuning telur, emulsi dapat membentuk koalesens dan dapat terwarnai lebih dalam
·           Albumin atau putih telur Keuntungan Serbuk putih telur lebih efektif dari pada putih telur segar karena lebih kental. Kerugian Diendapakan oleh banyak bahan.
·          Kasein Protein dan susu telah digunakan sebagai bahan pengemulsi tapi tidak memiliki keuntungan di bandingkan akasia dan kurang stabil daripada akasia, tidak digunakan untuk tujuan berarti 
c.    Lain – lain
·         Sabun dan Basa Keuntungan Sering digunakan dalam dermatologi untuk penggunaan luar. Sabun adalah emulgator yang lebih kuat khususnya sabun lembut sebagai  bahan yang mengurangi tegangan permukaan dari air Kerugian  Menghasilkan sediaan yang tidak bercampur  dengan asam dengan berbagai tipe.
·           Alkohol
1.    Padatan yang terbagi merata, Bagian emulgator ini membentuk lapisan khusus disekelilin tetesan terdispersi dan menghasilkan emulsi  yang meskipun berbutr  kasar, mempunyai stabilitas pisik. Hal ini dapat menyebabkan padatan dapat bekerja sebagai emulgator  dari efek yang ditimbulkan dari pewarna dan serbuk halus
2.    Emulgator sintetik
·         Anionik pada sub bagian ini ialah sulfaktan bermuatan (-) Contoh : Na, K  dan garam-garam ammonium dari asam oleat dan laurat yang larut dalam air dan baik sebagai bahan pengemulsi tipe o/w. Bahan pengemulsi ini rasanya tidak menyenangkan dan mengiritasi saluran pencernaan
·       Kationik. Aktivitas permukaan pada kelompok ini bermuatan (+).  Komponen ini bertindak sebagai bakterisid dan juga menghasilkan emulsi antiinfeksi seperti ini pada lotion kulit dan krem
·       Non ionic. Merupakan surfaktan tidak berpisah ditempat tersebar luas digunakan sebagai bahan pengemulsi ketika kerja keseimbangan molekul antara hidrofik dan lipofilik






2.    Komponen Tambahan
Menurut buku scovile’s zat tambahan pada emulsi terdiri dari:
1.      Pengawet,Beberapa pengawet dibutuhkan dalam emulsi yang disimpan untuk mencegah proses pembusukan protein dan proses fermentasi pada gum dan struktur sekalian agar efektif, pengawet harus larut dalam fase air emulsi dimana ia dapat menggunakan aksi perlindungannya alkohol dari konsertrasi 7 sampai 12 persen sering digunakan untuk tujuan ini. Asam benzoat 0,2%. Kadang-kadang digunakan tapi kurang efektif. Gusein juga digunakan parahidroksi berzoat dalam konsentasi 0,1 – 0,2 persen telah digunakan tapi penggunaannya dapat dibahasi oleh karena kekuatannya dalam air besar. komponen amonium kuarter dari konsentrasi 0,05 – 0,1 persen telah memberikan komponennya sebagai pengawet untuk buatan gelatin dan sukrosa. Minyak menguap digunakan sebagai pengaroma yang cenderung bekerja sebagai penjawab. Tidak sedikit emulsi yang khusus positif untuk berubah atau dijaga untuk beberapa waktu. Akasia mengandung enzim oksidatif yang cenderung untuk merusak vitamin A dalam emulsi minyak hati ikan. Namun demikian, enzim dapat siap diinaktifkan dengan pemanasan akasia mucilogo untuk beberapa menit noda rat 100oc.   
2.  Pengaroma, dibutuhkan untuk membuat emulsi enak dengan pertimbangan dibutuhkan dalam penggunanya. Formulasion natural, memberikan sejumlah campuran asumotik yang digunakan dengan efek yang baik. aroma dan rasa tajam tidak menyebar pada minyak sebab pengaruhnya lebih lembut. Untuk minyak hati ikan, ekstrat kering atau ekstrak glicynzhea yang diperoleh dari cengkeh atau mint yang mempunyai rasa dan penyebaran yang paling efektif.  Dalam beberapa fomulasi, kedua fase diaromai, Bisaanya 0,1 – 0,5 persen minyak menguap cukup untuk mengaroma emulsi.    Semua pengaroma membutuhkan bahan pertonis untuk membuatnya lebih berasa enak sirup, gula, sakarin dapat digunakan untuk tujuan ini, dan alirerin juga mempunyai sifat sebagai pemanis. Namun demikian bahan-bahan harus digunakan dengan pertimbangan agar sediaan lebih baik dan tidak menutupi rasa dan beberapa komponen lain. kombinasi di beberapa bahan ini tidak.
3.  pewarna,Sebagian besar emulsi berwarna putih atau kuning dan gelap. Ini dikarenakan oleh perbedaan refleksi cahaya yang diberikan oleh minyak dan air, juga karena larutan gelap atau suspensi dari emulagator yang juga berwarna gelap. Jika larutan dari bahan-bahan jernih dan minyak dan air dapat menerangi pada refleksi yang sama, emulsi dari minyak hati ikan dengan penambahan gula yang cukup untuk menyebabkan refleksi. Gliserin memiliki efek yang sama terhadap minyak emulsi yang transparan dimana pertimbangannya mengandung jumlah minyak
Menurut fornas edisi II zat tambahan pada emulsi terdiri dari:
1.    zat pengawet,dapat digunakan metil paraben,propel paraben,campuran metal paraben dan propil paraben,asam sorbet,atau zat pengawet lain yang cocok.
2.    zat antioksidan,dapat digunakan butilhidroksanisol,butilhidrositoluen,propel galat,asam sitrat atau antioksidan lain yang cocok.


BAB III
PENUTUP
A.   KESIMPULAN
Emulsi merupakan sediaan yang mengandung dua zat yang tidak dapat bercampur, biasanya terdiri dari minyak dan air, dimana cairan yang satu terdispersi menjadi butir-butir kecil dalam cairan yang lain.Emulsi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu emulsi vera (emulsi alam) dan emulsi spuria (emulsi buatan). Emulsi vera dibuat dari biji atau buah, dimana terdapat disamping minyak lemak juga emulgator yang biasanya merupakan zat seperti putih telur.
Ada dua macam tipe emulsi yang terbentuk yaitu tipe M/A dimana tetes minyak terdispersi kedalam fase air,dan tipe A/M dimana fase intern adalah air dan fase ekstern adalah minyak.Fase intern disebut pula fase dispers atau fase kontinu.Komponen emulsi ada dua yaitu komponen dasar yang terdiri dari fase dispers,fase kotinue,dan emulgator,dan kompnen tambahan terdiri dari pengawet,pewarna,pengaroma,dan antioksidan.
B.   SARAN
Sebagai mahasiswa farmasi sebaiknya memahami lebih dalam lagi mengenai defenisi emulsi,tipe-tipe emulsi,serta komponen emulsi agar dapat di aplikasikan pada saat bekerja baik di rumah sakit,puskesmas maupun di apotek.




DAFTAR PUSTAKA

      Anief,Moh.1993.Farmasetika.Universitas Gajah Mada:Yogyakarta
Anief,Moh.1997.Ilmu Meracik Obat.Universitas Gajah        Mada:Yogyakarta
      Ansel,c howard.1985.Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi.Universitas
                                   Indonesia:Jakarta
Depkes.1979.Farmakope Indonesia Edisi III.Departemen kesehatan RI:Jakarta
Depkes,1995.Farmakope Indonesia Edisi IV.Departemen Kesehatan Ri:Jakarta
Depkes.1978.Formularium Nasional Edisi II.Departemen Kesehatan RI:Jakarta
Jenkins,Glenn L.1957.Scoville’s the Art of Compounding Nineth edition.The  McGraw-Hill Book Company : USA
Lahman. L, dkk.1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri Edisi III. Universitas Indonesia: Jakarta
Martin,W.1971.Dispending of Medication 7th edition.Marck Publishing Company: USA

Voight,R.1994.Buku Pelajaran Teknologi Farmasi Edisi V.Universitas Gajah Mada:Yogyakarta